Article Detail


Konflik Sosial melalui Games Teka-Teki Silang (TTS)

Pembelajaran sosiologi di jenjang SMA memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir kritis dan kepekaan sosial peserta didik terhadap realitas masyarakat. Salah satu materi esensial dalam sosiologi adalah konflik sosial, yang sering kali dipahami secara sempit sebagai peristiwa negatif semata. Padahal, konflik sosial merupakan bagian dari dinamika sosial yang memiliki sebab, proses, dan dampak yang kompleks. Oleh sebab itu, pembelajaran konflik sosial perlu dirancang secara kontekstual dan bermakna. Inovasi pembelajaran menjadi kunci agar materi ini dapat dipahami secara mendalam oleh peserta didik.

Materi konflik sosial kerap dianggap sulit dan abstrak apabila disampaikan hanya melalui metode ceramah dan hafalan konsep. Peserta didik cenderung pasif dan kurang terlibat dalam proses pembelajaran. Kondisi ini menuntut guru untuk menghadirkan strategi pembelajaran yang lebih interaktif dan berpusat pada peserta didik. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah pembelajaran berbasis permainan edukatif. Games Teka-Teki Silang (TTS) berkelompok menjadi pilihan yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut.

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta didik diharapkan mampu menjelaskan pengertian konflik sosial dan faktor penyebabnya. Peserta didik juga mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk konflik sosial dan dampaknya dalam kehidupan masyarakat. Melalui diskusi kelompok, siswa diharapkan mampu menganalisis upaya penyelesaian konflik sosial. Selain itu, peserta didik menunjukkan sikap kerja sama dan tanggung jawab. Tujuan pembelajaran ini menekankan keseimbangan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

 

Konsep Pembelajaran Konflik Sosial

Konflik sosial merupakan proses sosial yang terjadi akibat perbedaan kepentingan, nilai, norma, atau penguasaan sumber daya yang terbatas. Dalam kajian sosiologi, konflik tidak selalu berdampak negatif, karena dapat mendorong perubahan sosial dan penataan kembali struktur sosial. Pemahaman terhadap konflik sosial menuntut kemampuan berpikir analitis dan reflektif. Peserta didik perlu diajak memahami konflik sebagai fenomena sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran konflik sosial tidak berhenti pada tataran teori semata.

Materi konflik sosial mencakup pengertian konflik, faktor penyebab, bentuk-bentuk konflik, dampak konflik, serta upaya penyelesaian konflik. Seluruh aspek tersebut saling berkaitan dan perlu dipahami secara utuh. Pembelajaran yang baik harus mampu membantu peserta didik mengaitkan konsep-konsep tersebut dengan realitas sosial di sekitarnya. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang mendorong keaktifan dan partisipasi siswa. Pembelajaran berbasis permainan menjadi sarana yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut.

Games TTS Berkelompok sebagai Strategi Pembelajaran

Games Teka-Teki Silang (TTS) merupakan media pembelajaran yang menggabungkan unsur bermain dan berpikir. Dalam pembelajaran konflik sosial, TTS dirancang berisi pertanyaan yang berkaitan dengan konsep, istilah, dan contoh konflik sosial. Peserta didik dituntut untuk memahami makna pertanyaan sebelum menentukan jawaban yang tepat. Proses ini melatih kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep secara mendalam. Selain itu, suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak menegangkan.

Pelaksanaan games TTS dilakukan secara berkelompok untuk mendorong interaksi sosial antarpeserta didik. Setiap anggota kelompok memiliki peran dalam mendiskusikan dan menyepakati jawaban. Diskusi kelompok memungkinkan terjadinya pertukaran ide dan sudut pandang yang beragam. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan jalannya diskusi dan memberikan penguatan konsep. Dengan demikian, pembelajaran berlangsung secara aktif dan kolaboratif.

Pembelajaran konflik sosial melalui games TTS berkelompok memberikan nilai tambah bagi peserta didik. Peserta didik tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga memahami makna dan penerapannya dalam kehidupan sosial. Aktivitas permainan membantu siswa mengingat istilah dan konsep dengan lebih mudah. Kerja kelompok melatih keterampilan komunikasi dan kemampuan bekerja sama. Selain itu, peserta didik belajar menghargai perbedaan pendapat dalam diskusi.

Bagi guru, pembelajaran ini menjadi alternatif strategi yang inovatif dan aplikatif. Games TTS dapat digunakan sebagai kegiatan penguatan materi maupun asesmen formatif. Guru dapat mengamati proses berpikir siswa secara langsung melalui diskusi kelompok. Pembelajaran menjadi lebih hidup dan interaktif. Hal ini mendukung terciptanya suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan.

 Pembelajaran ini dirancang selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang berpusat pada peserta didik. Peserta didik diberi ruang untuk aktif membangun pengetahuan melalui diskusi dan pemecahan masalah. Games TTS berkelompok mendorong pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses. Hal ini sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam dalam Kurikulum Merdeka.

Pendekatan ini juga mendukung pengembangan kompetensi sosial dan akademik secara seimbang. Peserta didik belajar memahami konflik sosial secara konseptual dan kontekstual. Diskusi kelompok membantu siswa mengaitkan materi dengan pengalaman sosial di lingkungan sekitar. Guru berperan sebagai pendamping dalam proses belajar. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan relevan.

Pembelajaran konflik sosial melalui games TTS berkelompok mendukung penguatan dimensi Bernalar Kritis. Peserta didik dilatih untuk memahami persoalan, menganalisis pertanyaan, dan menentukan jawaban secara logis. Proses diskusi membantu siswa menyusun argumen yang rasional. Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis peserta didik berkembang. Hal ini penting dalam menghadapi permasalahan sosial di masyarakat.

Dimensi Gotong Royong juga tercermin dalam kerja kelompok saat menyelesaikan TTS. Peserta didik belajar bekerja sama dan saling membantu dalam mencapai tujuan bersama. Selain itu, pembelajaran ini menumbuhkan sikap Berkebinekaan Global melalui pemahaman perbedaan sosial. Peserta didik diajak bersikap toleran dan empatik terhadap konflik sosial. Nilai Mandiri dan Berakhlak Mulia juga berkembang melalui tanggung jawab dan etika dalam berdiskusi.

Pembelajaran sosiologi materi konflik sosial melalui games TTS berkelompok merupakan inovasi yang relevan dengan Kurikulum Merdeka. Model pembelajaran ini mampu mengubah pembelajaran yang bersifat teoritis menjadi lebih kontekstual dan bermakna. Peserta didik tidak hanya memahami konsep konflik sosial, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan karakter. Pembelajaran menjadi lebih aktif, kolaboratif, dan menyenangkan. Dengan demikian, strategi ini layak diterapkan sebagai praktik pembelajaran yang efektif di sekolah.

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment