Article Detail
Saat Mural dan Film Menjadi Ruang Belajar Kehidupan
Hidup dalam Nilai,
Bertumbuh Bersama
Ketika Mural dan Film
Menjadi Ruang Belajar Kehidupan
Pagi itu, dinding biru di pagar SMA Tarakanita
Citra Raya tak lagi sekadar batas ruang. Ia menjadi saksi bagaimana warna-warna
bertemu dengan harapan, bagaimana gagasan muda berkelindan dengan nilai-nilai
kehidupan. Di antara sapuan cat dan bidikan kamera sederhana, para siswa
belajar satu hal yang kerap luput dari pelajaran sekolah: memahami diri,
merawat kebersamaan, dan bertumbuh bersama dalam nilai.
Pengalaman itulah yang terjalin dalam Proyek Kolaborasi bertema
“Hidup dalam Nilai, Bertumbuh Bersama”, yang dilaksanakan pada 26–29 Januari 2026. Proyek ini melibatkan peserta didik kelas X hingga XII,
menghadirkan pembelajaran lintas kelas yang menempatkan siswa sebagai subjek
utama proses belajar.
Mural dan film pendek dipilih sebagai medium
ekspresi. Bukan sekadar karya seni, keduanya menjadi bahasa refleksi—cara siswa
membaca realitas kehidupan, lalu meresponsnya dengan kepekaan dan tanggung
jawab. Di sinilah pendidikan bergerak dari sekadar transfer pengetahuan menuju
proses pemaknaan.
Pada proyek mural, siswa bekerja dalam kelompok,
merancang konsep, menyatukan ide, dan menuangkannya ke dinding pagar depan
sekolah. Setiap goresan warna lahir dari dialog, perbedaan pendapat, dan
kesepakatan bersama. Kreativitas berjalan seiring dengan gotong royong.
Nilai-nilai kehidupan tidak diajarkan lewat ceramah, melainkan dihidupi melalui
kerja kolektif.
Sementara itu, melalui proyek film pendek, siswa
diajak melangkah keluar dari rutinitas. Dengan tema besar “Jika Aku Menjadi”, mereka mengamati realitas sosial di
sekitar—tentang kepedulian, pilihan hidup, ketimpangan, dan harapan. Kamera
menjadi alat untuk memahami, bukan menghakimi. Cerita-cerita yang lahir
memperlihatkan keberanian siswa untuk menempatkan diri pada posisi orang lain
dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.
Seluruh proses proyek dijalani secara bertahap,
mulai dari perencanaan, penyusunan konsep, presentasi ide, pelaksanaan, hingga
refleksi. Proses ini mengajarkan bahwa belajar tidak hanya tentang hasil akhir,
tetapi tentang perjalanan: bagaimana ide tumbuh, bagaimana konflik disikapi,
dan bagaimana makna ditemukan bersama.
Yang tertinggal dari proyek ini bukan hanya mural
yang kini menghiasi sekolah atau film-film pendek yang tersimpan sebagai
dokumentasi. Yang tumbuh adalah kesadaran—bahwa nilai-nilai seperti kepedulian,
tanggung jawab, kreativitas, dan kebersamaan tidak hadir sebagai teori,
melainkan sebagai pengalaman yang dijalani.
Melalui Proyek Kolaborasi ini, SMA Tarakanita
Citra Raya menegaskan arah pendidikannya: membentuk manusia yang peka terhadap
realitas, berani berefleksi, dan siap bertumbuh bersama. Di antara warna mural
dan potongan adegan film, para siswa belajar bahwa hidup dalam nilai bukanlah
tujuan akhir, melainkan proses panjang yang dijalani dengan kesadaran dan
kebersamaan. (SS)
-
there are no comments yet
